Arhanud Penangkal Ancaman Militer Udara di Masa Damai

Semarang, Suara Diponegoro — Komandan Batalyon (Danyon) Arhanud 15/Dhana Bhaladika Yudha Mayor Arh Muhammad Ufiz berkesempatan meluangkan waktunya untuk berbincang mengenai ancaman yang mengintai pada masa damai dalam Bincang Suara Diponegoro beberapa waktu lalu di Studio Radio Suara Diponegoro, Penerangan Kodam (Pendam) IV/ Diponegoro.

Yon Arhanud 15 mengalami perubahan nama sebanyak tiga kali, karena berdasarkan karakteristik senjata yang terdapat dalam Batalyon tersebut. Batalyon yang terbentuk dari tahun 1966 sampai 1996 awalnya bernama Batalyon Ringan (BatalyonRI) karena karakteristik senjata yang ada dalam Batalyon Arhanud tersebut dibawah 50 mm.

Lalu pada tahun 2017 Yon Arhanud berganti menjadi Yon Arhanud C karena karakteristik senjata yang ada dalam Batalyon tersebut adalah 57 mm. Lalu pada tahun 2018 berganti nama menjadi Batalyon Arhanud 15/DBK karena menggunakan orgas baru atau Organsiasi Batalyon Arhanud Kompisi Tiga. Pergantian tersebut terjadi karena Yon Arhanud 15/DBY mendapatkan alutsista baru berupa  misil produksi Inggris yang diberi nama misil Starstreak.

Dengan adanya penambahan alutsista yang masuk maka didalam Batalyon Arhanud juga mengalami penyesuaian.

“Dalam militer ancaman yang paling mungkin muncul di masa damai sekarang ini yaitu melalui wahana udara. Dan Yon Arhanud sebagai pertahanan pertama untuk menangkal serangan tersebut,” pungkas Danyon yang besar di Madura ini.

Ancaman ini juga berkembangan, sebab prajurit arhanud dahulu hanya mengenal ancaman udara berupa helikopter dan fixed wings (pesawat tempur biasa). Sedangkan pada masa sekarang ancaman pun berkembang dengan semakin majunya teknologi.

Danyon juga mengungkapkan bahwa batalyonnya memiliki kegiatan rutin yaitu Program Latian Standarisasi (Proglatsi) yang membina prajurit arhanud dalam pengoperasian sehingga dalam keadaan apapun siap untuk di mobilisasi.

Danyon yang biasa dipanggil Mayor Ufiz ini juga mengungkapkan bahwa Yon Arhanud 15/DBK terkenal dengan kedekatanya dengan masyarakat. Hal ini dapat terlihat dengan hadirnya prajurit di acara masyarakat, seperti atraksi kesenian barongsai yang menarik bagi warga sekitar. Hal ini dianggap Danyon sebagai salah satu cara TNI berkomunikasi dengan masyarakat yaitu dengan kesenian dan untuk melatih moral prajurit dengan berada di tengah masyarakat.

“Cara kami meningkatkan moral pasukan Batalyon Arhanud yaitu dengan melakukan kegiataan keagamaan karena moral pasukan adalah hal yang utama,” tutur Mayor Ufiz kepada Laskar Suara Diponegoro. (PM/HR)

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai alutsista yang dimiliki Batalyon Arhanud 15/DBK silahkan tonton videonya di Channel Youtube Suara Diponegoro. Dan jangan lupa untuk meninggalkan jejak like, comment, share, dan subscribes.